YQ
Ruang Sastra SMPI Yambu'ul Qur'an
Cerpen

Lentera di Pinggir Kota

Sebuah kisah tentang pencarian makna, janji persahabatan, dan riuk rendah di balik lorong sekolah pinggiran kota.

B
Budi Santoso Kelas X-C
· ± 6 Menit Baca

Gerimis bulan Oktober belum juga reda saat bel pulang sekolah berdentang panjang tiga kali. Di sudut beranda asrama SMPI Yambu’ul Qur’an, Budi merapatkan jaket lusuhnya. Bau tanah basah berbaur dengan aroma rempah dari dapur umum di seberang lapangan. Di tangannya, sebuah buku catatan bersampul cokelat tua tampak sudah keriting di bagian tepinya—catatan yang memuat seluruh mimpi anak laki-laki dari tepian Sungai Gelis itu.

“Kamu masih menunggunya, Bud?” suara Hasan mengagetkannya. Sahabat karibnya itu menyampirkan tas ransel yang tampak berat oleh kitab-kitab tafsir.

“Lentera di gardu pos belum padam, San,” jawab Budi pelan seraya menatap ke arah gerbang kayu di kejauhan. “Pak Dulah bilang, jika lenteranya masih menyala, berarti gerobak pustaka keliling masih akan singgah di pelataran halte tua sore ini.”

Hasan menghela napas, lalu tersenyum maklum. Budi memang berbeda dengan anak-anak lainnya. Di saat sebagian besar siswa menghabiskan waktu luang sehabis ashar dengan bermain sepak bola di lapangan rumput yang becek, Budi memilih menyusuri tumpukan majalah dan buku sastra bekas yang dibawa oleh Pak Dulah, pensiunan penjaga rel kereta yang mewakafkan sisa umurnya untuk literasi anak-anak kampung.

❧

Langkah kaki kedua anak itu berderak di atas kerikil basah. Udara sore berhembus dingin menusuk tulang. Dari kejauhan, bias cahaya kuning hangat tampak berkedip-kedip menembus kabut tipis pinggir kota. Lentera badai berbahan bakar minyak tanah tergantung anggun di tiang bambu gerobak kayu Pak Dulah.

“Assalamu’alaikum, Pak Dulah,” sapa Budi seraya membungkukkan badan penuh takzim.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah! Ah, jagoan sastra kita datang lagi!” sambut pria tua berpeci hitam itu dengan tawa renyah yang menghangatkan suasana. Kerutan di dahinya menampakkan jejak puluhan tahun pengabdian.

Di atas meja kayu gerobak, berjajar rapi buku-buku beraneka rupa: mulai dari kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, roman klasik Balai Pustaka karangan Marah Rusli, hingga terjemahan risalah pemikiran Ibnu Khaldun. Budi menyentuhkan jemarinya pada salah satu jilid buku yang sampulnya telah pudar.

“Pak,” gumam Budi ragu, “apakah tulisan seorang anak pinggiran seperti saya kelak bisa dibaca orang banyak? Guru kami di kelas sastra sering berkata bahwa kata-kata yang lahir dari ketulusan tak akan lekang oleh zaman. Tapi terkadang… saya merasa suara saya terlalu kecil di tengah hingar-bingar dunia luar.”

Pak Dulah meletakkan cangkir seng berisi wedang jahe panas yang mengepul. Ia menatap Budi lekat-lekat, lalu menunjuk lentera kecil yang bergoyang tertiup angin senja.

“Lihat lentera itu, Budi,” ujar Pak Dulah lembut. “Di tengah kota sana, ada ribuan lampu neon benderang berdaya ratusan watt. Tapi di lorong sunyi persimpangan sawah ini, lampu-lampu megah itu tak ada artinya. Yang dicari orang tersesat di tengah gulita gerimis senja ini adalah lentera kecil ini. Sastra juga demikian. Kamu tidak perlu berteriak menyaingi gemuruh dunia. Cukup nyalakan api kecil di hatimu, tuangkan ke atas kertas, dan biarkan siapa pun yang kedinginan datang menghangatkan jiwa pada tulisanmu.”

❧

Kalimat itu menancap dalam di benak Budi. Malamnya, di bawah lampu belajar asrama yang temaram sementara rekan-rekannya telah terlelap dalam dengkuran halus, pena Budi menari lincah. Tidak ada lagi keraguan dalam goresannya. Ia menulis bukan untuk mencari puji atau tepuk tangan, melainkan untuk menjaga agar lentera di pinggir kota itu tetap menyala dalam sanubari pembacanya.

❧

Sampaikan Apresiasi untuk Penulis

Setiap tepuk tangan adalah dorongan semangat bagi santri & siswa untuk terus berkarya.

Ruang Diskusi & Catatan Pembaca

Tinggalkan ulasan, tafsir, atau sapaan hangat untuk penulis karya ini.

0 Catatan

Memuat catatan pembaca...