YQ
Ruang Sastra SMPI Yambu'ul Qur'an
Naskah Drama

Layar Terkembang di Tepian Harapan

Naskah pementasan teater satu babak tiga adegan mengenai pergulatan cita-cita santri, tradisi, dan keberanian menatap masa depan.

T
Tim Teater & Seni Peran YQ Sanggar Seni SMPI Yambu'ul Qur'an
· ± 8 Menit Baca

Keterangan Panggung & Durasi

25 Menit / 1 Babak 3 Adegan

Latar Suasana: Sebuah beranda pendopo madrasah berlantai kayu tua. Di latar belakang tampak siluet menara masjid bersahaja berlatar langit senja keemasan. Sebuah bangku bambu panjang terletak di sisi kanan panggung, dengan meja kecil berisi tumpukan kitab dan cangkir tanah liat.

Daftar Tokoh:
  • MALIK (16 tahun) — Santri tingkat akhir, gemar membaca naskah teater, memendam impian menjadi sastrawan.
  • HADI (15 tahun) — Sahabat Malik yang realistis dan jenaka, bercita-cita mengelola kebun kopi keluarga.
  • KYAI ZAIN (58 tahun) — Pengasuh pondok yang bijak, berpikiran terbuka, pecinta karya sastra klasik Arab & Melayu.
  • SUARA NARATOR — Suara di luar panggung yang mengiringi pergantian suasana adegan.

DAFTAR TOKOH & PERAN

  • MALIK : Santri tingkat akhir yang sedang gamang menentukan masa depannya.
  • HADI : Sahabat Malik yang humoris dan setia kawan.
  • KYAI ZAIN : Pengasuh pondok berwibawa yang mengayomi.

BABAK I : SENJA DI SERAMBI PENDOPO

ADEGAN 1

(Lampu panggung perlahan menyala hangat dari arah kiri (amber wash). Terdengar lamat-lamat alunan petikan gambus dan gesekan biola bernuansa kontemplatif. Di atas panggung, MALIK duduk bersila di atas bangku bambu seraya memangku sebuah manuskrip lusuh. HADI masuk dari sayap kanan panggung sambil membawa sapu lidi.)

HADI
(Menghentikan ayunan sapunya, memandang Malik dengan geleng-geleng kepala)
Masih belum selesai juga kau memandangi lembaran-lembaran berdebu itu, Malik? Sebentar lagi kentongan maghrib bertalu. Kalau kau telat mengisi bak wudhu santri cilik, Kang Rozaq pasti menyuruhmu mencabuti rumput di makam pendiri pondok lagi.
MALIK
(Tanpa mengangkat kepala, jemarinya meraba tepian kertas naskah dengan penuh takzim)
Ada kalimat di sini, Hadi... kalimat yang ditulis puluhan tahun lalu oleh seorang pujangga di Minangkabau. Katanya: "Bila kapalmu tak pernah meninggalkan dermaga karena takut pada gelombang, kau tak akan pernah tahu seberapa luas samudra yang diciptakan Tuhan untukmu."
HADI
(Menyandarkan sapu lidi pada tiang pendopo, lalu duduk di tepi bangku bambu)
Pujangga itu pandai berpuisi karena dia tidak harus menyiram kebun terong setiap subuh, sahabatku! Kita ini santri pinggiran. Hidup kita berakar di sini. Mengapa kau bersikeras ingin mendaftar ke sekolah seni peran di ibukota? Apakah kau tidak takut ayahmu murka?
MALIK
(Menatap nanar ke arah penonton, suaranya bergetar menahan gejolak rasa)
Ini bukan soal membangkang, Hadi. Ini soal panggilan jiwa. Apakah berdakwah hanya boleh lewat mimbar khutbah bersuara lantang? Bukankah panggung teater, kata-kata puisi, dan lakon sandiwara juga bisa menjadi mimbar untuk menegakkan kebajikan dan mengetuk pintu nurani manusia yang telah membeku?

ADEGAN 2

(Langkah terompah kayu terdengar pelan dan teratur dari arah belakang panggung. KYAI ZAIN melangkah masuk dengan jubah putih bersahaja dan sorban hijau muda yang tersampir di pundak. Kedua santri itu terperanjat, lalu serentak berdiri dan menundukkan kepala.)

HADI & MALIK
(Serempak membungkuk)
Assalamu'alaikum, Kyai...
KYAI ZAIN
(Tersenyum teduh, menepuk pundak kedua muridnya)
Wa'alaikumussalam warahmatullah. Angkat kepalamu, anak-anakku. Serambi ini dibangun bukan untuk tempat menundukkan mimpi, melainkan tempat menengadahkan doa.
MALIK
(Gugup, menyembunyikan naskah di balik punggungnya)
Nyuwun sewu, Kyai... kami tadi hanya...
KYAI ZAIN
(Mengulurkan tangan dengan lembut, meminta naskah itu)
Kutahu apa yang kau simpan di balik punggungmu, Malik. Bawa kemari naskah itu. Tak ada aksara yang haram selama ia ditulis dengan tinta kejujuran dan niat menghidupkan kemanusiaan.
(Malik menyerahkan naskah dengan kedua belah tangan yang bergetar. Kyai Zain membuka lembaran pertama di bawah pendar lampu teplok.)
KYAI ZAIN
(Membaca lirih sebuah bait di dalam naskah)
"Layar terkembang di tepian harapan, bukan untuk menantang badai, melainkan untuk membuktikan bahwa angin rahmat senantiasa berhembus bagi perahu yang berserah diri." Bagus sekali. Bahasanya tangguh, rasanya jernih.
MALIK
(Mata berbinar penuh keharuan)
Kyai... apakah santri seperti saya layak menapaki jalan seni?
KYAI ZAIN
(Menatap lurus ke dalam mata Malik dengan ketegasan seorang guru sejati)
Dengarlah, Malik. Agama ini diwahyukan dengan bahasa sastra tertinggi. Al-Qur'an memukau bangsa Arab jahiliyah bukan dengan pedang, melainkan dengan keindahan susunan katanya yang tiada tanding. Jika kau ingin berlayar di samudra sastra, jadilah nakhoda yang membawa kompas tauhid. Jangan biarkan ombak popularitas menenggelamkan jati dirimu. Terbangkan layarmu, dan panggung dunia akan menyimak tutur katamu!
(Suara adzan Maghrib mulai berkumandang sayup-sayup dari pengeras suara menara. Malik bersujud syukur di lantai pendopo. Hadi tersenyum haru seraya merangkul sahabatnya. Lampu panggung perlahan memudar menjadi siluet pekat (blackout).)
SUARA NARATOR
Dan malam pun turun memeluk serambi pesantren. Di sana, di dada seorang pemuda, sebutir lentera telah menyala—lentera yang kelak membakar gelapnya zaman dengan kata-kata kebenaran.

(LAYAR PERLAHAN TURUN — LAMPU MENYALA SEMPURNA / TEPAT WAKTU)

❧

Sampaikan Apresiasi untuk Penulis

Setiap tepuk tangan adalah dorongan semangat bagi santri & siswa untuk terus berkarya.

Ruang Diskusi & Catatan Pembaca

Tinggalkan ulasan, tafsir, atau sapaan hangat untuk penulis karya ini.

0 Catatan

Memuat catatan pembaca...